Rabu, 08 April 2015

Makalah Kerajaan Kutai dan Tarumanegara

Makalah Kerajaan Kutai dan Tarumanegara


BAB I PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) tepatnya di hulu sungai Mahakam. Keberadaan kerajaan tersebut ditandai dengan ditemukannya 7 buah prasasti berbentuk yupa. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, diperkirakan Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4. Yupa tersebut menggunakan huruf Pallawa dan dengan bahasa Sanskerta. Dalam yupa tersebut dikatakan bahwa raja pertama bernama Kudungga. Dilihat dari namanya, Kudungga adalah orang Indonesia asli. Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang disebut sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Penggunaan nama ‘warman’ pada nama raja berikutnya merupakan bukti bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu dan menunjukkan telah masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam kerajaan.
Dinyatakan pula dalam prasasti yupa, Aswawarman memiliki 3 putra. Yang terkemuka bernama Mulawarman yang akhirnya diangkat menjadi raja berikutnya. Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami masa kejayaannya. Hal ini disebabkan karena Mulawarman adalah raja yang dermawan, mulia, dan dekat dengan rakyat. Disebutkan dalam prasasti yupa, beliau menyedekahkan sapi sebanyak 20.000 ekor kepada kaum brahmana di Waprakeswara atau tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Dengan demikian, diketahui bahwa Mulawarman adalah penganut Hindu-Siwa.
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Jawa. Terletak di Jawa Barat, di sekitar daerah Bogor. Diperkirakan berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-7. Tarumanegara berasal dari kata Negara yang berarti kerajaan dan Tarum dari kata Citarum, yaitu sungai yang membelah Jawa Barat. Pada muara Citarum ditemukan  Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga adalah peninggalan peradaban Kerajaan Tarumanegara. Sumber sejarah yang ditemukan adalah berita dari luar negeri berupa catatan perjalanan Fa-Hien yang diceritakan terdampar di bagian barat Pulau Jawa dan 7 buah prasasti yang ditemukan (5 di Bogor, 1 di Jakarta, dan 1 di Banten).
Ketujuh prasasti tersebut adalah  Prasasti  Ciaruteun, Prasasti  Kebon Kopi, Prasasti  Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Munjul. Prasasti-prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dari ketujuh prasasti tersebut, yang belum dapat diterjemahkan isinya adalah Pasir Awi dan Muara Cianten. Isi kelima prasasti tersebut adalah:
1.      Ciaruteun, Adanya cap telapak kaki Raja Purnawarman yang melmbangkan kekuasaan raja merupakan jelmaan Dewa Wisnu.
2.      Kebon Kopi, adanya cap kaki gajah, Gajah Airawata, hewan tunggangan Dewa Wisnu.
3.      Jambu, prasasti ini menceritakan kebijaksanaan Raja Purnawarman.
4.      Cidanghyang, prasasti ini menceritakan keberanian Raja Purnawarman.
5.      Tugu, prasasti ini mengisahkan penggalian Sungai Candrabaga dan Gomati
Berdasarkan 7 prasasti tersebut, dapat disimpulkan bahwa raja yang terkenal adalah Raja Purnawarman. Konon, beliau adalah raja ketiga di Kerajaan Tarumanegara. Pendiri atau raja pertamanya adalah Jayasingawarman, kemudian Dharmayawarman, barulah Purnawarman. (Hal ini tertulis pada naskah Wangsakerta. Namun, naskah itu sendiri belum mendapat kepastian dari para ahli). Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman. Hal ini terjadi karena penggalian sungai Gomati dan Candrabagha menjadi sarana irigasi dan pencegah banjir. Wilayah kekuasaannya pun meliputi Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

BAB II PEMBAHASAN
A.      KERAJAAN KUTAI
1.      Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai diperkirakan ditunjang dari sektor pertanian, baik sawah maupun ladang. Selain itu, melihat letaknya yang strategis, yaitu di sekitar Sungai Mahakam yang menjadi jalur perdagangan Cina dan India, membuat Kerajaan Kutai menarik untuk disinggahi para pedagang. Dengan begitu, bidang perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai.
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai meningkat dengan diangkatnya Raja Mulawarman. Beliau adalah raja yang mulia dan dermawan. Terbukti dengan memberi sedekah kepada rakyatnya berupa 20.000 ekor sapi yang diletakkan di Waprakeswara.
2.      Kehidupan Sosial
Berdasarkan terjemahan prasasti-prasasti bukti peninggalan Kerajaan Kutai, dapat diketahui bahwa masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan teratur. Diperkirakan masyarakat Kutai telah terbagi menjadi beberapa kasta.
Dari bukti prasasti yupa yang ditemukan, tulisan yang digunakan merupakan huruf Pallawa dengan menggunakan bahasa Sanskerta serta dengan pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan brahmana, yang sebagaimana memegang monopoli penyebaran dan upacara keagamaan.
Selain golongan brahmana, terdapat pula golongan ksatria. Golongan ini terdiri dari kerabat dekat raja dan raja itu sendiri. Dikatakan dalam satu sumber bahwa keluarga Kudungga (selain dia) pernah melakukan upacara Vratyastima, yaitu upacara penyucian diri untuk masuk pada kasta ksatria. Terbukti dari arti nama nama raja yang memerintah Kerajaan Kutai (kecuali Kudungga ) yaitu adanya kata ‘warman’ di akhir nama raja yang berasal dari bahasa Sanskerta. Penambahan nama ”warman” biasanya melalui upacara atau penobatan raja secara agama Hindu.
3.      Kehidupan Agama
Kerajan Kutai mempercayai agama Hindu yaitu Hindu Syiwa. Tetapi di luar golongan brahmana dan ksatria, sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, masih terdapat kebebasan bagi masyarakatnya untuk menjalankan kepercayaan aslinya.

B.       KERAJAAN TARUMANEGARA
1.      Kehidupan Ekonomi
Masyarakat Tarumanegara mengutamakan bidang pertanian sebagai sumber mata pencaharian mereka. Mereka berladang secara berpindah-pindah. Selain itu, bidang pelayaran dan perdagangan tidak kalah penting dalam perekonomian Tarumanegara.
Dalam prasasti Tugu, dinyatakan bahwa raja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Terusan ini (Gomati dan Candrabhaga) dibangun oleh golongan budak dan kaum sudra. Pada akhirnya terusan ini selain berfungsi sebagai sarana pencegah banjir, juga berfungsi sebagai sarana lalu lintas pelayaran perdagangan antar daerah di Kerajaan Tarumanegara dengan daerah lain di luar kerajaan. Berdasarkan catatan Fa-Hien, seorang musafir Cina, masyarakat Tarumanegara memperdagangkan beras dan kayu jati.
2.      Kehidupan Sosial
Masyarakat Kerajaan Tarumanegara sudah menanamkan sikap gotong royong,berdasarkan isi dari prasasti Tugu. Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya Raja Purnawarman untuk terus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Beliau sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda penghormatan kepada para dewa.
Pengkastaan di Kerajaan Tarumanegara tidak jauh berbeda dengan yang ada di Kerajaan Kutai. Golongan brahmana bertugas mengatur tugas keagamaan. Kaum kesatria merupakan golongan bangsawan (raja dan kerabat). Sedangkan golongan terbesar meliputi para petani, peternak, pemburu, pelaut dan nelayan.
3.      Kehidupan Agama
Kepercayaan yang dianut warga di dalam Kerajaan Tarumanegara yaitu Hindu, tepatnya Hindu Wisnu. Sebagai bukti, pada prasasti Ciareteun ada tapak kaki raja yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu. Sedangkan agama yang dianut warga di luar kerajaan ada beberapa. Seperti yang dinyatakan oleh Fa-Hien, dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi, menceritakan bahwa saat mengunjungi Jawadwipa, dia hanya menjumpai sedikit orang  beragama Buddha. Kebanyakan masyarakat menganut kepercayaan Hindu dan “beragama kotor” (maksudnya animisme).
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar