Selasa, 25 November 2014

BUDAYA JAWA HANYA TINGGAL SEJARAH BILA ORANG JAWA KELUAR DARI HINDU

BUDAYA JAWA HANYA TINGGAL SEJARAH BILA ORANG JAWA KELUAR DARI HINDU



Di Media  (HINDU NUSANTARA) Menerbitkan Informasi,
-          Gubernur Bali keluhkan Proposal Ritual Miliaran Rupian
-          Umat Hindu di Jembrana terus menurun jumlahnya Gara – Gara sulit mencari Janur, lalu pindah agama
-          Agama Hindu adalah agama misi.

Penjelasan,
Gubernur Bali keluhkan Proposal Ritual Miliaran Rupian.
Gubernur Bali Mengeluhkan Proposal yang mencapai Miliaran Rupiah karena tidak sesuai dengan anggaran Daerah Bali, sengankan kebutuhan ritual setiap bulan selalu meningkat.

Umat Hindu di Jembrana terus menurun jumlahnya Gara – Gara sulit mencari Janur, lalu pindah agama.
            Karena tidak mampu melalukan selametan, maka Umat Hindu di Jembrana pindah Agama Islam

Agama Hindu adalah agama misi.
            Misi yang dimaksut mempengaruhi atau mencampur adukan antara tradisi dan ajaran agama Islam. Walaupun agama Hindu Minoritas, mamun yang mengamalkan ajaran Hindu adalah Mayoritas (Hindu Nusantara atau Hindu Indonesia)

SATU SATUNYA TRADISI YANG TIDAK DITIRU
OLEH UMAT ISLAM DI JAWA SAAT INI HANYA NGABEN

PEMBAHASAN PERTAMA,
GARBA WEDANA.
            Garba artinya Perut, dan Wedana artinya yang lagi Buncit, maka Garba Wedana artinya persaratan orang yang lagi hamil. Didalam ajaran agama Hindu persaratan orang yang hamil diantaranya,
-          SEPASARAN
-          TELONAN
-          TINGKEPAN
-          PITON – PITON
-          PENANAMAN ARI – ARI
Diantara Sepasaran, Telonan, Tingkepan. Yang paling di utamakan bagi umat Hindu adalah Tingkepan.  (Tingkepan adalah orang yang lagi hamil di usia ke 7 bulan), biasanya di acara Tingkepan dalam ajaran agama Hindu hanya dibacakan doa – doa seperti kitap Yajur Weda, kitap Manawa Darma Sastra Weda Semertyi dengan tujuan,
LAKI - LAKI : saat anak lahir diberi keselamatan, dan di beri ketampanan seperti Dewa Brahma.
PEREMPUAN : saat anak lahir diberi keselamatan, dan diberi kecantikan seperti Dewi Saras Wati.

Tingkepan yang di kalangan Muslimin yang ada di jawa
            Tingkepan yang  di laksanakan oleh orang Muslim juga membacakan doa – doa, ayat – ayat dari Al Quran, diantaranya dibacakan sutar Yusuf, surat Mariam dengan tujuan,
LAKI – LAKI : di beri ketampanan seperti Nabi Yusuf.
PEREMPUAN : di beri kecantikan seperti Ibu Mariam.

Dasar Garba Wedana
Diantara dua tempat nyala terdapat jata weda laksana benih suci terpelihara dengan baik oleh wanita mengandung. Agni dari hari ke hari harus dipelihara oleh manusia yang memelihara dengan membuat persembahan.      Kitap Samaweda, Sorka No 7 Halaman 35.

Yang di maksut Persembahan di Kitap ini adalah Pasaran, Telonan, Tingkepan, Piton – Piton,  dan Setengah Tahunan, kepada Tuhannya.

            Telonan dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah masyarakat adalah termasuk tradisi Agama Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangkara memohon keselamatan anak yang didalam rahim (kandungan).

Aturan – Aturan didalam Agama Hindu   Kitap Upadesa, halaman 46
@. PENGAMBEAN yaitu Upacara pemanggilan atman. (urip)
@. SAMBUTAN yaitu Upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) pada si bayi.
@. JANGANAN yaitu Upacara suguhan terhadap empat saudara yang menyertai kelahiran sang bayi yaitu darah, air, barah dan ari – ari (orang jawa menyebut kakang kawah adi ari – ari) sebagian ada yang menyebut (amarah, iawwamah, suffiah, mutmainnah).
            @. Di saratkan kalu menjenguk membuang kala ditungku dapur, yaitu ketika menjenguk si jabang bayi tidak boleh langsung menuju banyinya, tetapi langsung menuju dapur. (kakinya yang kanan, kaki kiri dan tangan kanan, tangan kiri)

-          Sedangkan upacara terhadap ARI – ARI ialah setelah ari – ari terlepas dari si bayi lalu didersihkan dengan air lalu dimasukkan ketempurung kelapa yang dibuang ujungnya dan telah dikuliti atau dimasukkan ke dalam kendil.
-          Didalamnya dimasukkan tulisan “AUM” agar supaya Hyang Widhi melindungi.
-          Selain itu juga dimasukkan sebuah kewangen sebagai persembahan empat saudara itu ke hadapan Hyang Widhi yang meyelamatkan kelahirannya.
-          Kelap atau kendil ditutup dengan ijuk atau kain putih kemudian ditanam, bila bayi yang lahir adalah wanita maka ari – ari ditanam di kiri pintu, dan bila yang lahir adalah pria, maka ari – ari ditanam di kanan pintu.
-          Kelapa atau kendil yang berisi ari – ari ditimbun dengan baik, dan pada malam hari diberi lampu.
-          Apa yang diperbuat terhadap si bayi. Ari – ari saudara empat itu harus diperlakukan begitu juga. Kalau sibayi habis bimandikan airnya disiramkan juga pada tempat itu.
-          Kalau habis diberi susu ibu. Harus dipercikkan juga pada empat saudara itu. Si Ai – Ari disugui Upacara, empat saudara inipun tidak ditinggalkan.
-          Pada pergelangan dan pinggang bayi biberi benang PAWITRA.

Benang Pawitra
Benang Pawitra adalah Benang yang berwarna merah putih dan hitam yang di pakai bayi pada pergelangan tangan atau kaki dan di pinggang, Benang Pawitra bertujuan untuk pengakal Dewa Asura, (Sebagai Tolak Bala) sedangakan di jawa Dewa Asura berganti nama menjadi Betoro Kolo.

Setelah usia bagi satu setangah tahun ada upacara Otonan yaitu bayi dimasukkan kedalam kurungan ayam bererta buku, tempat berhias, mainan, uang, barang rumah tangga sehari – hari dengan tujuan, bila dipilih uang maka kelak pinter mencari uang, bila memilih tempat berhias maka kelak cepat laku menikah, bila memilih buku agar kelak pintar dan yang lain sebagainya.

            Upacara  Naik 7 Tangga Tebu Ireng dan 7 Apem Warna – warni
            Ritual naik 7 tangga tebu iteng yaitu naik tangga ini merupakan simbol bagi orang tua dalam memimbing anaknya menuju tingkat spiritual ataupun cita – cita anak yang perlu digapai.

            Ritual ini juga dilakukan oleh masyarakat Islam dijawa dengan mengganti media yaitu 7 tangga tebu iring menjadi 7 apem warna - warni. Untuk pertama kali menapakkan kaki ditanah oleh si bayi, hal ini adalah simbol dari orang tua dalam membimbing anaknya, mengarumi kehidupan dunia yang penuh dengan warna – warni.

            Memberi Nama Yang Baik
            Mamberi nama kepada anak yang baru lahir adalah termasuk dari ajaran Aqiqah. Rosulullah SWA memerintahkan agar kita member nama yang baik.    HR. Abu Dawud, Kitab al-abad, 4297

            Ari – Ari Menurut Agama Islam
            Ari – ari boleh di tanam di kebun, belakang rumah. Ari – ari harus dikubur sangat dalam, dengan tujuan agar tidak digali binatang buas. Islam menganggap ari – ari adalah kotoran, suwaktu masih ada didalam perut masih punya hubungan dengan sijabang bayi, tetapi kalau sudah lahir itu tidak lebih dari sebuah kotoran.

Dewa Dewi Agama Hindu    (Bila di nirwana disebut Tuhan bila turun di bumi disebut Dewa)
Sang Hyang Widhi yaitu Tuhannya umat Hindu.
Dewa Brahma dan Dewi Saraswati yaitu yang menggoda anak yang sedang berpacaran.
Dewa / Tuhan bagi Agama Hindu tidak mempunyai kekuatan bila tidak mempunyai pendamping seperti,
                        Dewa Siwa mempunyai Dewi Ukma atau Dewi Durga.
                        Dewa Baruna (Penguasa Laut) dan mempunyai Nyai Loro Kidul.

Di Bulan Muharom (Bulan SURO) Umat Islam larung sesaji di pantai selatan karena takut dengan Nyai Loro Kidul.
            Di Ponoroga, Bersih Desa Nebel dengan membuang sesaji (nasi tumpeng) di danau Nebel.


PEMBAHASAN KEDUA,
            Memperlakukan Orang Meninggal
            Menurut Umat Hindu, Kuarga mayat diperintahkan untuk bobosan, maksutnya mereka harus lewat di bawah jenasah yang sedang ditandu mau diberangkatkan kemakam dengan maksut supaya yang mati ingat yang masih hidup dan sebai wujut bakti kepada mayit dan salam kepada dewa yang ada dinirwana.
            Untuk orang Hindu saat pemberangkatan mayat ke sektre (Makam) diatas kepala mayat di beri paying, dalam ajaran Hindu alam dunia adalah alam Mikro Kosmos karena dia mau menuju alam Buana Agung, alam dunia ini diwujutkan sebagai sebuah payung dan biasanya payung tersebut ditancapkan diatas sektre.
            Bagi orang Beragama Hindu yang sudah mampu langsung di NGABEN, bagi yang belum mampu maka dikuburkan dulu menunggu ada pembakaran masal. Saat menunggu pembakaran masal diatas kuburannya diberi kijing dengan tujuan mayatnya tetap utuh.
            Bagi orang Beragama Hindu didalam ritual pemberangkatan mayat biasanya menggunakan beberapa bungga diantaranya,
-          Bunga putih mempunya kekuatan Dewa Brahma
-          Bunga merah mempunya kekuatan Dewa Wisnu
-          Bunga Kuning mempunya kekuatan Dewa Shiwa
Biasanya kumpulan bunga ini dibuat RONCE yaitu, kumpulan bunga yang dirangkai sedemikian rupa dan ditengahnya menggunakan benang putih untuk menyatukannya dan ditaruh diatas beranda mayat.

            @. Bunga biasanya digunakan untuk ngirim ke kuburan.
            @. Di dalam Agama Hindu ada Sawur yaitu, kumpulan bunga ditambah dengan andong puring, beras yang berwana kuning dan uang logam. Biasanya di sawur – sawur sepanjang jalan menuju pemakaman.

            Bagi orang yang Beragama Hindu ketika mereka memberangkatkan mayat kekuburan, ada ritual – ritual yang harus dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan diantaranya,
            @. Harus melakukan selametan.                     (SELAMETAN dilakukan Orang Hindu tetapi Orang Islam melakukan SODAKOH)
            @. Selametan diadakan pada Hari Pertama, Hari Ketiga, Hari Ketujuh, Hari Empat Puluh, Hari Ke Seratus, Satu Tahun, Dua Tahun, dan Hari Ke Seribu.

PANCA YAJNA          (Panca adalah Lima, Yajna adalah Selametan artinya, Macam – Macam Selametan yang dilakukan umat Hindu)
1.      Dewa Yajna
2.      Pritra Yajna
3.      Manusia Yajna
4.      Rsi Yajna Contoh Nyadran
5.      Buta Yajna

1. Dewa yajna artinya selametan yang ditujukan kepada IDA SANG YANG WIDI, biasanya diganti MEMETRI BOBOKUWOSO IBU PERTIWI.
2. Pritra Yajna artinya selametan yang ditujukan kepada LELUHUR, biasanya pengiling – iling hari pertama sampai hari keseribu.
3. Manusia Yajna artinya selametan yang ditujukan kepada ADMAN, biasanya diganti menjadi selametah hari kelahiran atau ngampirne neton di desa, bila dikota diganti selametan ULANG TAHUN.
4. Rsi Yajna artinya selametan yang ditujukan kepada PUNDEN – PUNDEN atau DAYANGAN.
Danyangan yaitu, kuburan orang yang pertama masuk disuatu desa dan kuburannya itu disebut DANYANGAN. Kalau dikota disebut HAUL, memperingati kematian KHIYAI.
5. Buta Yajna artinya selametan yang ditujukan kepada semua makluk. Biasanya ditujukan menjelang PUASA.

SODAKOH
Sodakoh adalah memberi makan fakir miskin atau saudara - saudara kita yang membutuhkan. Sodakoh dikeluarkan saat kita mempunya kelebihan harta, tampa harus menunggu 100 hari atau 1000 hari.
(Tidak Perlu Mengunggu Kerabat / Keluarga Meninggal)

            Apakah Dewa Orang Hindu Butuh Makan ?
Dalam beberapa gambar terlihat Dewanya Umat Hindu meminum, memekan TUMPENG, dan terlihat dalam beberapa gambar terdapat sajen di depan Dewa Brahma.
            Dalam ajarah Agama Hindu Apabila tidak melakukan selametan maka Dewa Asura murka (BETORO KOLO MURKA)

            TUMPENG
Bagi Orang yang Beragama Hindu atau Orang yang akan masuk ke Agama Hindu dia harus bersahadat, dan sahadatnya sangat ribet. Kalau tidak bias bersahadat cukup membuat tumpeng. Yang berbentuk segitiga (segitiga yang dimaksut adalah trimurti  SHIVA, VISHNU, dan BRAHMA). Orang yang Beragama Hindu mempunyai keyakinan, barang siapa yang membuat tumpeng berarti dia sudah masuk Agama Hindu.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar